68 Persen Jemaah Haji Berisiko Tinggi Kesehatan

Petrus - 1 August 2018

SR, Makkah – Pusat Kesehatan Haji Indonesia mencatat sebanyak 55.685 orang atau 68,77 persen merupakan jemaah dengan risiko tinggi kesehatan (Risti). Hal ini terlihat dari jemaah yang umurnya lebih dari 60 tahun dengan penyakit yang telah diidap sejak di Tanah Air.

“Tingginya Risti merupakan fakta yang tidak bisa dipungkiri. Karena memang demikianlah kondisi kesehatan jemaah kita yang mayoritas sudah Usila dan umumnya usia lanjut (Usila) sudah disertai dengan penyakit penyerta,” kata Kepala Pusat Kesehatan Haji, Eka Jusuf Singka, Selasa (31/7/2018).

Menurut Eka, fakta ini harus dihadapi bersama-sama, tidak hanya melalui pendekatan kesehatan saja tetapi pendekatan yang komprehensif. Ia pun meminta semua pihak harus sepakat bahwa jemaah haji harus terlindungi, agar dapat menjalankan ibadahnya sampai tuntas dan kembali ke Tanah Air menjadi haji mabrur.

“Kita harus pro rakyat, harus pro jemaah. Saya mengajak semua pihak untuk mensukseskan program kesehatan jemaah haji yang merupakan bagian dari upaya perlindungan jemaah secara menyeluruh. Kita sebagai petugas haji harus memiliki satu target. Satu kepentingan yaitu melindungi jemaah haji,” ujar Eka.

Kepada jemaah, Eka mengingatkan untuk menghemat tenaga menjelang Armina.

“Jangan memaksakan diri untuk beraktivitas yang tidak penting. Cukup istirahat. Jaga pola makan, dan banyak minum,” katanya.

Hingga hari ke 13 penyelenggaraan kesehatan haji di Arab Saudi, pelayanan kesehatan jemaah diberikan di 3 tempat, yaitu di Kloter oleh Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), di Bandara oleh Tim Mobile, dan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Adapun total rawat jalan oleh TKHI sebanyak 22.059 orang (20.564 orang di Madinah dan 1.495 orang di Makkah) dan total rujukan sebanyak 273 orang (252 orang di Madinah dan 21 orang di Makkah).

“Diagnosa penyakit terbanyak rawat jalan adalah Hypertension sebanyak 3.727 orang,” kata Eka.

Tim Mobile di Bandara mendata 160 jemaah mengalami masalah kesehatan. Di KKHI Madinah menerima 14 rujukan, merawat inap 41 jemaah, dan merujuk 21 jemaah ke RSAS. Sementara di KKHI Makkah telah menerima 10 pasien, masih dirawat inap 7 jemaah, dan merujuk 14 jemaah ke RSAS.

Untuk mengingatkan jemaah agar menjaga kesehatannya, Tim Promotif Preventif (TPP) telah memberi penyuluhan kepada 201 Kloter.

“Penyuluhan mulai diberikan ketika jemaah tiba di Bandara, di bus, pemondokan dan di masjid Nabawi setelah sholat subuh,” kata Eka.

Penyuluhan diberikan agar jemaah selalu menggunaakan alat pelindung diri (APD) lengkap setiap beraktivitas di luar pondokan. APD yang dianjurkan meliputi penggunaan payung, kacamata hitam, masker, semprotan air, dan sandal.

Terkait hal itu, Kemenkes telah menyiapkan 204.000 buah payung dan kacamata, yang diberikan kepada semua jemaah haji. Sementara masker, sandal dan semprotan air, masing-masing berjumlah 20.400 atau 10% dari jumlah jemaah, dibagikan kepada jemaah yang kedapatan tidak memakai masker, semprotannya rusak atau hilang, dan tidak memakai alas kaki.

Selain itu, TPP juga mendistribusikan dan memasang poster dan banner berisi pesan-pesan kesehatan. Pemasangan dilakukan di sektor-sektor dan di pemondokan yang banyak dilalui jemaah.

“Sampai hari ini sebanyak 15 jemaah wafat. Penyebab wafat terbanyak dipicu oleh penyakit jantung (11 orang). Lokasi wafat terbanyak di pondokan sebanyak 6 orang,” kata Eka.

Eka mengingatkan jemaah untuk selalu menjaga kesehatan menjelang puncak ibadah haji nanti.

“Haji itu Arafah. Siapkan tenaga supaya bisa ibadah maksimal,” katanya.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.