Dukungan Pemkot Surabaya untuk Geliat Ekonomi di Eks Lokalisasi Dolly

Petrus - 4 March 2018
Masakan Kare kepiting Bu Jum Dolly, upaya Pemkot Surabaya berdayakan warga di sekitara eks lokalisasi menjaid lebih produktif (foto : Humas Pemkot Surabaya)

SR, Surabaya – Setelah ditutup empat tahun yang lalu, wajah eks lokalisasi prostitusi Dolly terus berubah dan berbenah. Kawasan eks pelacuran terbesar di Asia Tenggara ini sekarang berubah wajah menjadi kawasan ekonomi masyarakat. Tempat yang dulunya ramai dengan kehidupan malamnya, kini menjadi kampung produktif.

Diungkapkan oleh Camat Sawahan, Surabaya, M. Yunus, kawasan eks lokalisasi prostitusi Dolly dan Jarak, saat ini mulai berkembang dalam bidang ekonomi melalui geliat usaha industri kreatif.

“Selama ini Pemkot Surabaya terus melakukan berbagai upaya agar perekonomian warga sekitaran eks lokalisasi ini semakin meningkat, termasuk dengan mendirikan industri kreatif bagi warga sekitar,” kata Yunus.

Saat ini terdapat 23 kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM) di kawasan tersebut. Seperti usaha produk olahan batik berjumlah empat kelompok UKM, yaitu Jarak Arum, Alpujabar, Canting Surya, dan Warna Ayu.

Ada juga kelompok olahan makanan dan minuman berjumlah 13 UKM, yaitu TBM Kawain, olahan bandeng, Jarwo Tempe, Sami Jali, Pangsit Hijau, Cak Mimin (dian rujak), UKM Puja (telur asin, botok telur asin), UKM Squel (olahan keripik), UKM Vigts (jamu herbal), Gendis (bumbu pecel), UKM Henrik (olahan semanggi dan es puter) dan olahan minuman dari rumput laut.

“Setiap kelompok UKM itu terdiri dari tiga hingga sepuluh orang, dan merupakan warga dari sekitaran eks lokalisasi Dolly dan Jarak,” ujar Yunus.

Di kawasan ini juga terdapat usaha industri kreatif yaitu, KUB Mampu Jaya (produksi sandal, sepatu dan goody bag), sablon, minyak rambut (phomade dan semir), Handycraft (manik-manik) dan usaha dalam bentuk lukisan.

“Kami juga saat ini sedang menyiapkan untuk industri sabun rumahan. Jadi nanti, tidak hanya produk sandal dan goody bag saja yang kita tawarkan ke pihak hotel, tapi juga ada produk olahan sabun,” ungkapnya.

Pemkot Surabaya terus berupaya melakukan pemberdayaan keluarga di kawasan eks lokalisasi, baik laki-laki maupun perempuan diajak untuk produktif demi kesejahteraan keluarga. Sebuah tempat juga telah disiapkan oleh Pemkot Surabaya, sebagai pusat oleh-oleh dan menjajakan berbagai produk UKM dari seluruh warga sekitar eks lokalisasi.

“Mulai dari awal proses produksi hingga menuju market place, kami terus melakukan pembinaan dan pendampingan ke mereka. Secara periodik mereka juga kita kumpulkan untuk evaluasi, seperti ketika ada kesulitan kita wadahi mereka, dan kita sampaikan ke dinas terkait,” lanjutnya.

Yunus mencontohkan, pendapatan yang diperoleh dari industri sandal dan sepatu bisa mencapai sekitar 30-40 juta per bulan, dengan jumlah produksi sebanyak 300 buah per hari. Sementara untuk usaha batik omsetnya bisa mencapai 17-28 juta per bulan.

“Saat ini yang ramai itu pesanan untuk sandal hotel. Sekitar 10 hotel di Surabaya yang pesan. Sementara untuk pesanan yang paling jauh dari Sorong, Papua,” terangnya.

Pengembangan akan terus dilakukan terutama di eks Wisma Barbara, yang diharapkan menjadi tempat bagi warga untuk lebih produktif.

Di samping bangunan bekas gedung wisma Barbara, terdapat sebuah warung makan sederhana yang rasanya tidak kalah dengan restoran. Warung makan bernama “Bu Jum Dolly” ini menyediakan berbagai olahan masakan yang dijamin rasanya, meski harganya cukup terjangkau, salah satunya menyajikan menu kare kepiting.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.