Gunakan Pewarna Alami, Batik Ponorogo Ini Tarik Minat Pasar

Petrus - 13 December 2017
Dian Fajar Riono, perajin batik asal Ponorogo yang menggunakan pewarna alami (foto : Superradio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo – Kain batik yang identik dengan pewarna kimia, oleh Dian Fajar Riono kini diganti menggunakan pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Dengan cara seperti ini, batik buatan Riono memiliki bau yang khas dengan kain batik pada umumnya.

“Saya sudah menggeluti usaha ini sejak tahun 2011 lalu bersama istri saya,” tutur Riono, saat ditemui di kediamannya, Rabu (13/12/2017).

Riono menerangkan, untuk pewarnaan alami diperolehnya dari bahan di sekitar rumahnya serta tempat penggergajian kayu. Untuk warna kuning ia dapatkan dari kunyit, warna hijau dari daun juar, mangga dan bungur, warna merah dari akar pace, secang dan kulit pohon mahoni, sedangkan warna biru berasal dari daun tom.

“Kalau warna hitam dari perpaduan warna yang sudah ada,” jelasnya.

Menariknya, agar warna yang dihasilkan tidak mudah pudar, Ono sapaan akrabnya, menggunakan metode penyelupan sebanyak 15 kali dengan air mendidih dan air kanji.

“Tapi dicucinya jangan menggunakan deterjen, cukup pakai shampo saja,” imbuhnya.

Warga Desa Nambak, Kecamatan Bungkalm Kabupaten Ponorogi ini menambahkan, satu karung daun hanya bisa digunakan untuk tiga lembar kain batik saja, sehingga ia pun menanam pohon daun bungur di pekarangan rumahnya untuk menjaga ketersediaan daun.

“Sebelum digunakan untuk pewarnaan, daun-daun yang masih hijau dimasak selama lima jam untuk menghilangkan getahnya,” ujarnya.

Satu lembar kain batik ukuran 2,4 x 1,15 meter ini dibanderol dengan harga muali Rp 275 ribu hingga jutaan rupiah. Dalam satu bulan, ia mampu meraup omset hingga puluhan juta rupiah.

“Satu bulan laku 20 sampai 30 lembar kain batik,” ujarnya.

Pesanan datang tidak hanya dari Ponorogo, melainkan juga dari Kalimantan dan Jakarta. Bahkan ia juga pernah memamerkan produknya di China. Ia mengklaim, hanya dirinya satu-satunya perajin batik yang menggunakan pewarna alami di Ponorogo.

“Saya berharap batik di Ponorogo bisa berjaya seperti dulu lagi,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.