Presiden Jokowi Sebut Perekonomian Indonesia Semakin Baik

Petrus - 7 December 2017
Presiden Joko Widodo dalam sebuah acara ekonomi di Jakarta, menyebut perekonomian Indonesia semakin membaik (foto : Superradio/Niena Suartika)

SR, Jakarta – Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa perekonomian di Indonesia saat ini sudah semakin baik. Pasalnya, jika dibandingkan pada saat pertama kali ia memimpin, kini suasananya jauh lebih baik.

“Suasananya jauh lebih baik, baik secara internal maupun eksternal, dibandingkan pada saat kita menandai usia satu tahun pemerintahan di tahun 2015,” ujar Presiden Jokowi dalam acara Bloomberg : The Year Ahead Asia Summit 2017, di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (6/12/2017).

Ia menuturkan, situasi ekonomi saat itu tidak sebaik seperti sekarang ini. Karena anjloknya harga beberapa komoditas, seperti harga minyak yang turun lebih dari 50 persen dibanding tahun sebelumnya.

Selain itu, perekonomian Indonesia juga masih melambat pada tahun 2015 selama empat tahun berturut-turut, dan dampak devaluasi mata uang Tiongkok yang mengakibatkan tekanan pada rupiah semakin memperburuk situasi ekonomi nasional.

“Hari ini, dua tahun kemudian, mata uang kita, rupiah, sudah membaik sekitar 11 persen terhadap dolar Amerika Serikat dan cadangan devisa kita mencapai rekor tertinggi, yaitu sekitar 130 milyar dolar Amerika Serikat,” kata Jokowi.

Ia juga mengatakan, ekonomi Indonesia telah membaik dengan pertumbuhan PDB di atas 5 persen, setelah menginjak level 4,6 persen di kuartal ketiga tahun 2015.

Tidaka hanya itu, berdasarkan survei United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), Indonesia juga naik empat peringkat menjadi posisi ke-4 sebagai negara tujuan investasi.

“Mei tahun ini, badan pemeringkat dunia Standard and Poor menaikkan peringkat Indonesia kembali menjadi layak investasi. Hal ini juga merupakan yang pertama dalam 20 tahun terakhir, bahwa Indonesia berpredikat layak investasi oleh tiga badan pemeringkat dunia, S&P, Moody’s, dan Fitch,” kata Jokowi.

Menurut Presiden Jokowi, perkembangan positif yang terjadi saat ini merupakan hasil dari kerja keras dan buah reformasi. Dalam satu bulan menginjak kursi kepemimpinan pada tahun 2014, pemerintah langsung memotong subsidi bahan bakar sebesar 80 persen yang mengakibatkan adanya ruang fiskal sebesar 20 milyar dolar Amerika Serikat per tahunnya.

Melalui kebijakan itu, pemerinyah dapat mengalokasikan dana tersebut untuk meluncurkan proyek pembangunan infrastruktur terbesar dalam sejarah Indonesia.

“Saat ini kita berada di jalur yang benar untuk menyelesaikan jumlah proyek infrastruktur terbanyak, yang pernah dibangun dalam lima tahun pemerintahan di Indonesia,” kata Jokowi.

Selain itu, hasil dari reformasi struktural yang dilakukan juga berdampak pada meningkatnya peringkat Indonesia dalam indeks kemudahan berusaha versi Bank Dunia. Hasilnya, peringkat Indonesia membaik dari semula 106 pada tahun 2016 menjadi peringkat 72 untuk tahun 2018, artinya ada kenaikan 34 peringkat dalam waktu dua tahun.

Jokowi berharap dengan reformasi yang dilakukan pemerintah dan membaiknya perekonomian Tanah Air, kepercayaan publik terhadap pemerintah akan terus meningkat.

“Awal tahun ini, survei global oleh EOCD yang dilaksanakan oleh Gallup Internasional, menempatkan Indonesia sebagai peringkat pertama dalam hal kepercayaan publik terhadap pemerintahnya,” pungkas Jokowi.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.