Jaga Sejarah Ponorogo, Warga Slahung Gelar Kirab Pusaka

Petrus - 3 December 2017
Prosesi kirab pusaka warga Slahung, Ponorogo (foto : Superradio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo – Warga Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, menggelar kirab pusaka sebagai bentuk melestarikan budaya dan sejarah. Terdapat tiga pusaka yang dikirab yakni Tombak Tunggul Nogo, Payung Songsong Buwono dan Tongkat Jati Kumoro. Kegiatan yang merupakan agenda rutin akhir tahun ini masuk dalam kalender wisata Kabupaten Ponorogo, sehingga banyak menarik perharian wisatawan lokal maupun mancanegara.

Budayawan Ponorogo, Purbo Sasongko menuturkan, kegiatan ini sebagai bentuk mengingat kembali perjuangan Bupati Gadingrejo, Joyonegoro, selama menjalankan tugasnya sebagai bupati. Kirab pusaka berangkat dari Desa Nailan, dan berakhir di Desa Slahung, tepatnya di makam Joyonegoro.

“Kirab ini selalu ada tiap tahun, sudah tidak bisa dipungkiri ini juga menjadi wisata sejarah Ponorogo,” tuturnya saat ditemui di lokasi, Minggu (3/12/2017).

Kirab ini diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat Slahung, mulai dari Muspika, Perangkat Desa, sekolah-sekolah dan warga Slahung. Kirab sejauh tujuh kilometer ini diikuti warga dengan cara naik kereta kuda atau delman. Peserta kirab pun berpakaian layaknya anggota kerajaan.

“Acara napak tilas ini untuk mengenang jasa Joyonegoro,” ucapnya.

Joyonegoro merupakan Bupati Gadingrejo, kalau sekarang tepatnya Dusun Gading, Desa Campurejo, Kecamatan Sambit pada tahun 1604-1611 M, yang kabupatennya dibubarkan oleh Mataram lama.

“Kekuasaannya pun diberhentikan, lalu beliau diasingkan di Slahung,” ujarnya.

Slahung berasal dari kata selong atau pengasingan. Joyonegoro usai kekuasaannya diberhentikan, lalu menjalani pengasingan di Tumpak Swangon, di Gunung Loreng. Joyonegoro sendiri merupakan putera dari panembahan senopati di Mataram.

“Menariknya, keturunan Jayanegoro adalah HOS Tjokroaminoto,” imbuhnya.

HOS Tjokroaminoto ternyata mempunyai darah Slahung, sehingga terbentuknya NKRI tidak lepas dari adanya peran serta darah Ponorogo. Tjokroaminoto merupakan guru bagi presiden pertama RI, Soekarno.

“Ini supaya generasi muda paham mengenai sejarah, serta turut menjalankan tradisi warga Slahung,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.