3 Jenazah Terduga Teroris Diserahkan Kepada Kelurga

Petrus - 19 May 2018
Petugas menyiapkan peti jenazah untuk penyerahan kepada keluarga terduga teroris (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Jenazah 3 terduga teroris yang tewas akibat ledakan prematur bom rakitannya sendiri, di rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, pada Minggu (13/5/21018), selesai diidentifikasi oleh tim DVI Mabes Polri dan diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.

Tiga jenazah terduga teroris yang yang beralamat KTP di Manukan Kulon Surabaya, merupakan satu keluarga yakni Anton Ferdianto, Sari Puspita Rini, dan Hilya Aulia Rahman. Sedangkan 3 orang anak dari terduga teroris Anton, masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Polisi Frans Barung Mengera menerangkan, proses identifikasi membutuhkan waktu yang cukup lama, untuk memastikan data-data yang diperlukan dalam proses identifikasi terpenuhi.

“Dari Pusat DVI yang diletakkan di Rumah Sakit Bhayangkara menyampaikan hasil identifikasi yang akan diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Dan kami menyampaikan juga bahwa hasil ini secara terus menerus nanti akan disampaikan, karena hari ini baru hanya 3,” terang Frans Barung.

Ketiga jenazah yang diletakkan di dalam kantong jenazah dan tersimpan di kontainer penyimpanan, kemudian dimasukkan peti kayu bercat putih, kemudian dibawa menggunakan mobil ambulance dan mobil jenazah. Tidak diketahui secara pastu jenazah diserahkan ke siapa, karena pihak keluarga tidak nampak saat pemindahan jenazah.

Sementara, rencana pemakaman terduga teroris di TPU Putat Gede ditolak sejumlah warga yang tidak ingin ada jenazah teroris yang dimakamkan di sekitar tempat tinggal warga. Bahkan ada pula kepala daerah di luar Surabaya yang menolak menerima jenazah teriduga teroris dan memakamkan di daerahnya.

Pengamat terorisme dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Akhmad Muzakki mengungkapkan, penolakan pemakaman jenazah terduga teroris oleh sebagian warga, merupakan konsekuensi penolakakan masyarakat atas aksi terorisme yang selama ini menimbulkan keresahan.

“Konsekuensi berikutnya ya lalu masyarakat menolak mereka dikebumikan di titik masing-masing. Bahkan pimpinan pemerintah daerah juga menolak ada warga yang mau dikebumikan di tempat itu. Sinyalnya penting, supaya jangan melakukan apa-apa kepada warga masyarakat ini. Jangan melakukan pelanggaran pada adat, sosial, norma-norma sosial untuk kita bersama,” ujarnya.

Muzakki juga menekankan bahwa aksi teror di Surabaya serta daerah lain di Indonesia, tidak ada kaitannya dengan agama apapun, karena tidak ajaran agama yang membenarkan saling membunuh atau menghilangkan nyawa orang lain.

“Teroris ini nir-agama sebetulnya, gak ada kaitan dengan agama, agama apapun. Ini adalah pelanggaran kepada hak dan martabat kemanusiaan,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.